Masih Perlukah Memperdebatkan Awal Ramadhan dan Syawal?

perhitungan hisab

Setiap tahun, para ahli hisab dan rukyat berkumpul dengan para ahli astronomi untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal. Perdebatan pun tak terelakkan. Hasil akhirnya, ada saja yang mengatakan bahwa mereka akan merayakan Idul Fitri duluan dari pada yang lain. Mengapa demikian?

Memang Allah mengharamkan hambanya berpuasa pada tanggal 1 Syawal, tapi haruskah itu yang membuat kita harus lebaran duluan dari saudara kita sesama muslim yang lain? Apakah karena haramnya itu lalu kita mengorbankan pahala kita berpuasa di hari terakhir Ramadhan? Apakah karena dosa puasa pada 1 Syawal kita akan kehilangan pahala puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan? Menurutku, mereka yang berlebaran duluan adalah orang yang udah bosan dengan bulan Ramadhan dan malas untuk berpuasa di hari terakhir. Untuk apa sebenarnya kita berdebat mengenai hal ini? Awal Ramadhan dan awal Syawal hanya terjadi sekali dalam setahun. Sementara sholat 5 waktu sehari semalam yang artinya lebih dari 2000 kali setahun arah kiblatnya kita abaikan dan hanya manut saja dengan arah kiblat mesjid kita yang belum tentu benar arahnya. Ingat, salah satu syarat syahnya sholat adalah menghadap kiblat. Jika kiblat kita bergeser sedikit saja, maka sholat kita tidak syah.

Harusnya arah kiblat kita ini yang harus kita perdebatkan. Tidak sedikit mesjid yang mengukur arah kiblatnya dengan alat yang sangat tradisional di jaman modern seperti sekarang. Pantaskah di jaman yang serba modern dan dengan peralatan modern yang sudah diciptakan ini kita masih mengukur arah kiblat dengan peralatan peta dan kompas seadanya? Kebanyakan mesjid yang sudah dibangun hanya mengukur arah kiblat dengan menarik garis lurus dari kotanya ke arah kota Mekkah lalu mengukur sudutnya dengan busur. Cukupkah dengan demikian saja? Dengan peralatan canggih, GPS dan satelit yang sudah diciptakan, masih pantaskah kita menggampangkan begitu saja penentuan arah kiblat kita?

Dahulu Allah memerintahkan ummatnya untuk sholat menghadap ke Masjidil Aqsha, hingga akhirnya turun perintah agar kita sholat menghadap ke Masjidil Haram. Nah, sekarang di Bandung, jika arah sholat kita bergeser ke kanan sedikit saja, berarti kita masih menghadap ke kiblat lama yaitu Masjidil Aqsha. Berarti kita menentang perintah Allah. Masih syahkah sholat kita?

Hal lain yang masih perlu kita perhitungkan adalah, dalam ilmu Geologi, dikenal bahwa benua-benua di dunia bergerak. Artinya bisa saja tanah kita ini bergeser dan bergerak hingga mengakibatkan arah kiblat kita pun berubah. Selain itu tanah yang diatasnya dibangun sebuah mesjid pun berubah. Jadi sudah sepantasnya kita mengupdate arah kiblat mesjid kita secara berkala karena bisa saja arah kiblat mesjid itu berubah bila diukur menggunakan alat canggih.

Jadi menurutku, tak perlulah kita berdebat terlalu berlebihan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal. Lebih baik kita tentukan bersama, sudah benarkah arah kiblat kita selama ini? Apalah artinya kita takut berdosa karena berpuasa pada tanggal 1 Syawal yang terjadi hanya sekali dalam setahun, sementara kita tetap berdosa selama lebih dari 2000 kali setahun karena arah kiblat kita yang sudah melenceng arahnya. Apalah artinya dosa sekali setahun dibanding dosa 2000 kali setahun?

8 Tanggapan

  1. Kalo ngga berdebat, itu namanya bukan umat Islam (Indonesia). Kan hobinya emg saling menyalahkan, saling membid’ahkan, trus saling mengkafirkan.
    Saat kita masih berdebat tentang awal bulan, orang lain udah lalu lalang ke bulan.
    (Kita paling kuat “naik ke bulan”).
    Dalam catatan aku, cuma tentang satu hal para ulama kita ngga beda pendapat: halal dan berkahnya poligami! Kalo itu sih sepakat).

  2. Ada yg ketinggalan. Nah lo, kalo kiblat pun mo kita perdebatkan lagi, makin ancur dah… Debat truuss, kapan ibadahnya. Ya ngga?

  3. HETTRIK!
    PAHALANYA DOBEL, EH, THREESOME, EH LAGI, TRIPLE DING!

  4. @ Toga/Nesia
    hahaha… bang toga bisa aja, masa threesome seh hahaha…😀

  5. Perlu dong… Kalo ngga, apa kerja para ulama?

  6. @ mamasakura
    ulama khan kerjaannya gak cuma berdebat, tapi memberikan tuntunan dan panutan bagi ummat. kalo ulama aja dalam menentukan suatu hal pake cara preman, gimana lagi ummat

  7. klo di indonesia, penentuan awal – ramadhan dan syawal di dasarkan oleh
    1. perhitungan (hisab)
    2. penglihatan posisi bulan (hilal)
    3. (“di indonesia di anggap dasarnya paling utama”)
    politis – nya

  8. mau awal atau akhir kan tinggal gimana ngejalaninnya,,kayaknya ulama-ulama kita sudah mulai menjadi Tuhan ato mungkin (maaf pinjam bahasa arian13) bermain dengan Tuhan,,semakin jauh semakin puritan saja ulama-ulama kita,, tak ubahnya kaum farisi jaman dahulu kala hahah,,,salam deh buat ulama2 di Indonesia dan selamat deh karena sekarang pekerjaannya kan baru : jadi selebritis (ustad2 di tv), jadi komentator negara (mending bung kusnaeni hehe), jadi polisi moral (hmmm,,,), menyelamatkan wanita dari nasib menjadi perawan tua lewat poligami hahaha, menjadi THE A TEAM dalam misis menghancurkan bapak-bapak yang lagi ronda di pos keamanan demi keamanan masyarakat,,trus jadi tukang ngatur kehidupan umat manusia di dunia ini,,,,wah-wah berapa kali harus saya bilang…PURITAN!!! tai anjing,,gua bilang go to hell with ur aid,,astaghfirullah,,semoga dosa2nya terampuni,,,amin…begitu juga dosa saya…amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: