Kebiasaan Film dan Sinetron Indonesia

Suatu hari saya sedang tidak ada kegiatan. Karena bosan di rumah, saya mencoba untuk menyalakan TV dan menonton acara yang sedang ditayangkan. Ternyata seluruh stasiun TV di Indonesia hanya menayangkan satu program acara saja yaitu sinetron. Sebuah tayangan yang sebenarnya sangat tidak mendidik dan kurang bermutu.

Akhirnya karena tak ada tayangan yang lain, saya memutuskan untuk menonton salah satu sinetron tersebut. Dalam salah satu adegan saya melihat bagaimana sang pemeran utama terbatuk-batuk sedikit dan menutup mulutnya yang sedang batuk dengan sapu tangan yang memang sedang dipegangnya. Apa yang terjadi? Setelah batuknya reda, sang pemeran melihat ke saputangannya dan melihat ada sepercik darah yang sudah menetes di saputangannya.

Pada saat yang bersamaan, saya rasanya ingin muntah melihat adegan tersebut. Mengapa film maupun sinetron Indonesia selalu saja seperti itu. Setiap menunjukkan kondisi seseorang yang sedang tidak sehat, selalu ditunjukkan dengan terbatuk-batuk. Yang lebih tidak masuk akal lagi, terkadang orang yang sedang memerankan seseorang yang mengidap kanker otak pun harus batuk-batuk, apa hubungannya kanker otak dengan paru-paru.

Jika penyakitnya sudah terlalu parah, maka batuk-batuknya ditutup dengan saputangan, lalu terlihat ada sepercik darah segar yang seolah-olah keluar dari mulut saat batuk di saputangan. Apa setiap penyakit pasti gejalanya seperti itu.

Hal ini selalu menambah kekhawatiran saya atas kondisi perfilman negeri ini. Apa memang harus seperti itu? Atau sutradara Indonesia yang sudah tidak punya ide lain untuk menunjukkan parahnya penyakit sang tokoh? Jika kondisi ini terus menerus seperti ini, maka hingga 100 atau mungkin 200 tahun yang akan datang, perfilman Indonesia tak akan pernah bisa bersaing dengan perfilman luar negeri.

Apakah juga disadari oleh insan perfilman di tanah air bahwa sebenarnya, produksi sinetron Indonesia sudah over limit. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perfilman Indonesia. Sadarkah kita bahwa kondisi perfilman Indonesia yang sempat terpuruk ini juga merupakan imbas dari over limit-nya produksi sinetron di Indonesia. Produser tak lagi memproduksi film, karena lebih murah memproduksi sinetron ketimbang film, selain itu keuntungannya juga segera diraih begitu sinetronnya ditayangkan di televisi. Sementara film baru akan diraih keuntungan yang besar jika filmnya laris di pasaran, walaupun dalam ruang lingkup hanya se Indonesia saja.

Sayangnya, keterpurukan film Indonesia, tanpa disadari juga adalah akibat dari kecanduan masyarakat Indonesia terhadap tayangan yang tak mendidik tersebut. Masyarakat begitu antusias bahkan maniak terhadap tayangan sinetron hingga terlupakan kalau dunia sineas Indonesia masih memiliki satu produk lagi yang disebut dengan film. Gilanya bahkan jika ada yang mengajak seseorang untuk mengunjungi bioskop, maka dia akan berkata, “Buat apa nonton bioskop mahal-mahal, nonton aja sinetron di TV, gratis lagi.”

Kapankah Film Indonesia yang dilengkapi dengan teks berbahasa Inggris akan ditayangkan di bioskop-bioskop di Hollywood?

13 Tanggapan

  1. asli, aku seneng banget… punya temen dengan kerisauan sama. tp mungkin begitulah… sinetron menunjukkan bangsa. artinya, memang begitulah kelas kita.

    :))

    makasih buat comment-nya, semoga film dan sinetron kita kelak menunjukkan tanda2 kemajuan

  2. mas,

    nama blognya, secara terjemahan, sama ya kayak saya, MILITIA EST VITA HOMINIS SUPER TERRAM = hidup adalah perjuangan…
    iya tuh mas.. sinetron kita makin ajaib…

    http://angky_astari.blogs.friendster.com/me_my_self_i/2007/07/5_penyakit_favo.html

  3. @ angky
    hidup memang perjuangan angky, jika tidak berjuang, kita akan kalah dalam percaturan hidup. Sinetron kita semakin lama semakin parah, tak ada lagi yang dapat kita banggakan dari produk sinetron dalam negeri.
    Makasih yah udah mampir di blogku, thanks juga buat komennya.

  4. apa yang dibilang di atas, memang bagus dan bener sekali.

  5. memang sich, apa yang dibilang di atas bener sekali.dan aku sangat mendukungnya.

  6. @ elida
    yah begitulah fenomena yang terjadi di negeri yang “katanya” harus kita cintai ini. semua kesalahan terjadi ketika kita baru mulai start dari awal, tapi sayangnya kesalahan gak pernah diperbaiki malahan dipertahankan, ini akan terus berlangsung hingga entah kapan

  7. aku suka sinetron Insonesia lihat,tapi aku kurang suka kalau didalamnya bayak cerita cengeng suka nangis. kalau bisa sinetron indonesia lebih maju bersifat mendidik.malu kalau dipandang dari dalam negeri dan luar negeri.Begitu juga dengan film Indoneia harus bisa menunjukan budaya kita yang akan bisa bersaing dengan luar negeri biar tambah maju sifatnya jangan terlalu manja dalam karakter sifat.oke sampai sekian dulu choirijatun surabaya.*

  8. aku yang jauh disini pingin punya sahabat banyak baik pria dan wanita bisa tuh kenalan sama aku pelukis surabaya tapi tinggal di negara jerman .kalau ada insan yang tertarik pingin kenal silakan .aku biasa dipanggil chori alumi dari STIEUS SURABAYA profesi pelukis ,dan menari,menyanyi. tapi saat ini aku kosentrasi lukisan karena aku pamerkan hasil karyaku tidak di Indonesia tapi diluar negeri pokoknya aku sudah profesional menerjuni dunia art.oke salam sayang untukmu semua ,aku senang bila ada yang membaca tulisanku ini terimah kasih choirijatun*

  9. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA.wassalam dari choirijatun

  10. @ choirijatun
    Sinetron Indo gak terlalu memalukan kok di luar negeri, soalnya kebiasaan sinetron indo selalu menampilkan sosok keluarga kaya di dalamnya, gak terlalu maluin khan. bisa aja orang luar negeri berpikiran di negeri ini banyak orang kaya cuma jadi negatif, kaya akibat korupsi saking tingginya angka korupsi di negeri ini.
    wah chori, mudah-mudahan banyak yang baca yah dan banyak yang mau bersahabat dengan kamu

  11. Ehm…iya juga niech..bukannya sinetron na makin berkembang dan bermutu. Tapi mlh jd ancur gitu.

  12. PERSANI ;;;;;;;Persatuan Anti Sinetron Indonesia
    Ganyang Sinetron!!!

  13. He..he..he,, coba saja mayoritas penduduk indonesia relatif pintar,sinetron itu ngk bakalan laku.ini masalah pasar ekonomi,terbukti memang banyak yang suka.sangat dianjurkan untuk menjelaskan pada keturunan kita bahwa sinetron itu(tidak semuanya) sebenarnya melecehkan kecerdasan penduduk.itulah yang bisa kita lakukan,,,damai selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: